www.ozankicaumania.com

Friday, 24 May 2019

Mengapa Kacer Yang Berpindah Lokasi Berubah Performanya Meski Rawatannya Tidak Berubah?

Mengapa Kacer yang Berpindah Lokasi Berubah Performanya Meski Rawatannya Tidak Berubah? – Jika pada posting sebelumnya sudah pernah kita bahas wacana kacer yang berubah performa saat pindah tangan, pada posting ini kita akan membicarakan topik yang hampir sama yaitu fenomena  kacer yang Berubah Performanya Meski Rawatannya Tidak Berubah. Mari kita kupas misteri ini secara seksama.

Mengapa Kacer yang Berpindah Lokasi Berubah Performanya?

Dalam masalah ini biasanya burung akan brubah dalam hitungan bulan, bahkan dalam hitungan minggu. Faktor penyebab utama fenomena ini terjadi tetaplah suhu dan cuaca yang berbeda. Biasanya dalam masalah ini penurunan kinerja burung tidak eksklusif drop, melainkan sedikit demi sedikit. Contoh kasus, saya membeli burung dari jawa dengan setingan JK 5/5, mandi tiap hari, kroto 2 hari sekali, dan jemur 1jam. Lalu saat burung tersebut saya over ke samarinda Kalimantan Timur yang menyerupai hampir tidak mempunyai pakem demam isu yang niscaya (siang panas kemudian tiba-tiba hujan), apakah setting rawatan dari jawa akan berlaku di kalimantan?

Saya yakin, setting rawatan di atas hanya dapat bertahan dalam hitungan bulan saja, atau bahkan cuma ahad kalau pakem rawatan tersebut diterapkan di kalimantan. Menurunnya metabolisme burung itu tidak eksklusif drop, melainkan sedikit demi sdikit. Contoh ahad pertama di kalimantan burung masih kerja dan juara, lihat ahad berikutnya niscaya ada penurunan kinerja dan begitu seterusnya hingga bobrok total burung tersebut.
Trus, beitu juga sebaliknya. Jika burung yang berasal dari tempat yang lebih hambar dengan settingan JK 3/3, mandi 2 hari sekali, dan jemur 2jam kemudian pindah ke tempat yang suhu cuacanya lebih panas, apakah setting di tempat asalnya itu berlaku di tempat yang baru? Jawabannya terperinci tidak. Naiknya suhu cuaca niscaya kuat besar terhadap metabolisme burung.
Jadi kesimpulanya, kalau burung yang berasal dari tempat panas pindah ke tempat yang lebih dingin, maka EF harus dipangkas dari setting aslinya dan mandi dikurangi 50% dari setting awalnya. Maka otomatis metabolism akan dapat singkron. Begitupula sebaliknya kalau kacer yang berasal dari tempat yang lebih hambar pindah ke tempat yang lebih panas, justru JK harus dinaikkan 30% dan durasi mandi ditambh 50% maka kita boleh berharap bahwa kondisi burung tersebut akan singkron.
Maka dari itu saya mencoba selalu menekankan bahwa rawatan itu fleksible. Harus diubahsuaikan dengan suhu cuaca dan sikon burung tersebut, semisal rawatan pancaroba, rawatan untuk yang berprofesi sebagai karyawan, dll Karena sejatinya penyakit burung kacer itu memang majemuk tapi biasanya penyebabnya hanyalah alasannya ialah menurunya atau naiknya metabolisme pada burung tersebut. Di sinilah titik dimana kita harus benar-benar paham bahwa settingan kacer itu fleksible.
Mengapa Kacer yang Berpindah Lokasi Berubah Performanya
Maaf saya tidak bermaksud takabur, ini hanya kisah faktual yang saya harap dapat diambil hikmahnya. Saya dalam beberapa kesempatan pernah mengirim burung ke tempat Kalimantan yang berdasarkan dongeng beberapa KM kalau burung dari tempat lain dikirim ke tempat itu, kemungkinan besar burung tersebut niscaya rusak. Tapi alhamdulilah, belum pernah mitos itu terjadi pada saya alasannya ialah saya tidak menyamakan rawatan burung di sana dengan rawatan awal burung di tempat saya. Lalu, bagaimanakah kalau perpindahannya dalam satu kota yang sama? Adakah perubahan yang juga harus kita lakukan?

Perubahan Performa Burung meskipun Pindah Tangan dalam Satu Kota

Perubahan performa burung juga dapat terjadi saat burung pindah tangan ke pemilik gres padahal masih satu kota. Contoh kasusu, kemarin sempat ada yang telepon saya wacana problem ini ia tidak merubah dari segi mandi dan penjemuran tapi burungnya berubah performanya 180°. Dalam masalah ini berdasarkan pengamatan saya yang salah ialah dari penempatan si burung. Di pemilik lama, burung selalu ditempatkan di bawah atap asbes yang tentunya akan menjadikan hawa panas. Sementara saat sudah di tangan pemilik baru, burung ditempatkan di bawah atap genteng. Ini problem serius, seharusnya kalau kita tidak memunyai atap asbes berarti kita harus melaksanakan penyesuaian dari segi pertolongan extra fooding. Pemberian EF nya harus dirubah, pola yang tadinya menggunakan jangkrik 5/5 harus dirubah menjadi 3/3, durasi penjemuran ditambah, dan mandi dikurangi maka akan ketemu menyerupai perawatan pemilik sebelumnya.

Ada lagi pola masalah lain. Dari pemilik sebelumnya, burung ditempatkan di ruangan biasa sementara sesudah pindah ke pemilik gres burung ditempatkan di ruangan ber-ac. Sobat KM ini ialah tindakan yang sangat fatal akibatnya. Makara intinya, kita sebagai perawat burung harus benar-benar jeli dan peka kalau kita akan men take over burung-burung yang sudah mapan, tidak hanya jumlah EF saja yang di perhatikan. Karena yang namanya seekor unggas sangat sensitive sekali dengan perubahan suhu udara yang ada di sekitarnya. Menurunnya suhu udara akan kuat terhadap metabolisme tubuhnya. Jadi, bukan hanya sotang setting saja yang ada di benak kita. Faktor lingkungan juga harus kita perhatikan.
Di tempat yang cuacanya awalnya panas terik tiba-tiba  hujan, kita harus pandai-pandai menyesuaikan rawatan. Di pemilik usang burung ditempatkan di lingkungan panas, sementara tempat kita lingkungannya dingin, kita juga harus peka melaksanakan penyesuaian rawatannya. Bukan panasnya yang kita pertimbangkan tetapi perubahan dinginnya yang perlu disikapi. Itulah kuncinya, kalau ingin menciptakan kinerja burung tetap maksimal meskipun dikirim ke tempat yang mempunyai cuaca sangat berbeda. IBI BK

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Mengapa Kacer Yang Berpindah Lokasi Berubah Performanya Meski Rawatannya Tidak Berubah?

0 komentar:

Post a Comment

Silakan Jiaka Ada Komentar Jangan Ragu Ragu !!!